Imam Darto Tanggapi Kontroversi Koas di Film Gudang Merica: Kami Riset, Tanya ke Dokter Benaran

15 hours ago 5

Jadi intinya...

  • Film Gudang Merica dikritik karena visualisasi koas, namun sutradara klaim riset mendalam.
  • Aktor menjalani workshop 3 hari dengan dokter, mempelajari prosedur medis dan RJP.
  • Ada keputusan kreatif, bukan gimmick, bertujuan menciptakan pengalaman membekas bagi penonton.

Liputan6.com, Jakarta - Saat teaser film Gudang Merica karya sineas Imam Darto diperkenalkan ke publik, respons yang muncul beragam. Ada yang menyambut antusias namun beberapa mempertanyakan visualisasi kegiatan mahasiswa kedokteran yang menjalani koas atau ko-asisten. Menurut mereka, koas yang sebenarnya tak seperti yang digambarkan dalam film. Sejumlah kritik ini muncul di Twitter atau X. Kritik ini lantas dikonfrontasi awak media kepada Imam Darto dalam peluncuran poster dan trailer film Gudang Merica di Jakarta Pusat, pekan ini.

“Gue sudah enggak buka X lama banget. Password-nya lupa jadi gue sudah enggak buka X lama. Tapi gue mengerti bahwa ada sebuah pertanyaan ‘Apakah riset?’ Jujur, kami riset. Kalau bicara riset, kami risetnya luar biasa sekali, tanya ke dokter,” kata Imam Darto.

Sejumlah pemain Gudang Merica yang memerankan koas yakni Ardhito Pramono, Fatih Unru, Arla Ailani, dan Zulfa Maharani menjalani workshop sekitar tiga hari bersama dokter. Mereka mempelajari sejumlah detail tindakan medis hingga perkara cuci tangan yang benar.

“Tiga hari workshop sama dokter kan? Betul, betul. Kami workshop cara menangani pasien, RJP (Resusitasi Jantung Paru) itu bagaimana. Nanti kalau dilihat bahkan ada satu peran itu benaran ibu dokter yang kasih workshop mereka,” ujarnya. “So, we are using real doctors,” Imam Darto menyambung. Selebihnya ada keputusan kreatif yang mesti dibuat sutradara dan produser.

Mayat Pasien Mendadak Hilang

Film Gudang Merica mengisahkan Razi (Ardhito Pramono), Tanti (Zulfa Maharani), Rindu (Arla Ailani), dan Adit (Fatih Unru), menjalani masa koas atau ko-asisten di salah satu rumah sakit.

Malam demi malam jaga yang awalnya baik-baik saja berubah menjadi teror setelah pasien tanpa identitas meninggal di tangan mereka. Bayangan, suara-suara aneh, hingga sosok seram pun mengintai. Puncaknya, mayat pasien itu mendadak hilang.

Berdasarkan Riset

Imam Darto menggarisbawahi, meski genrenya drama komedi, Gudang Merica digarap dengan riset. “Cuma ketika bicara keputusan dalam film itu, kan banyak aspek. Ada direction dari art, ada lokasi, ada macam-macamlah,” ungkap Imam Darto.

“Jadi, based on research juga bahwa keputusan yang sudah kita ambil itu terbaik dan terbijak pada saat itu. Melihat kemungkinan atau opsi-opsi lain, ini sudah opsi paling baik untuk kita ambil,” ia menyambung.

Huru-Hara Visual Koas

Imam Darto menggarisbawahi, huru-hara soal visual koas dalam Gudang Merica bukan gimik untuk mencari perhatian calon penonton. “Dan bukan gimik, tidak ada gimik itu. Enggak ada gimik,” pungkas Imam Darto.

Produser Amrit Punjabi menambahkan, Gudang Merica upaya mendorong batas konvensi. Ia dan tim ingin menciptakan pengalaman yang membekas. Setelah menonton, diharapkan ada kesan yang menetap di hati audiens.

Sinopsis Film Salmokji: Whispering Water dan Para Pemainnya, Ada Kim Hye Yoon hingga Jang Da Ah

Read Entire Article
Dunia Televisi| Teknologi |